Sunday, September 14, 2003

Sabar

Senantiasa kau ingin melangkah
Adakalanya kau merasa was was
Betapapun didalam hatimu
Amatlah berkecamuk segala ambisimu
Raihlah segala apa yg ada di benakmu

Ilham..,,
Impianmu bersatu bertarung dalam kegelapan
Langkah cita citamu jangan kau patahkan
Harapan,jangan terlalu kau agungkan
Anugerah adalah kenyataan dan tentu
disatu saat akan tiba di pangkuanmu juga.

(sandelwood)

Nb: dari seorang kawan.

PiSah

Udara dingin memaksa dirinya untuk duduk diam dalam aula besar wonheim, memang sebenarnya tidak ada niat untuk meninggalkan gedung berlantai 5 itu, bayang bayang satu tahun terakhir begitu indah menari nari dalam ingatanya.......

Dinginya udara Winter...., kehangatan....., kebersamaan...., riuh penghuni wonheim...., kekacauan...., rasa resah..., bimbang..., takut..., Harmonis keluarga baru yang terbentuk tanpa Gesetz berputar kembali memaikan dirinya dalam lamunan Panjang.....,

Dari dalam Aula itu pandanganya menembus jendela besar, dengan lemahnya menatap gedung FH yang berdiri tepat di belakan wonheim....,

ya..., memang jarak Wonheim dan FH hanya dipisahkan oleh gedung Sporthalle, lapangan olah raga dan taman kecil,

Rasa haru...., dengan mata yang sembab dia hanya terus menatap gedung FH, tanpa dia bangkit dari duduknya...,

Entah apa yang harus dia Ucapkan ......, kata kata apa yang pantas dirangkaikan, ...lamunannya belum juga berhenti mengenag semua dalam kebisuan ruangan besar.

Tiupan angin semakin membuat udara terasa dingin, sedingin es yang ada di Kulschrank Wonheim (he...he...he...).

Dia biarkan jendela terbuka lebar, dia biarkan rasa rindunya membeku dalam kenangan, dia biarkan film film ingatannya terus berputar di mata., aroma udara dingin menembus batasan waktu.

Seandainya dia bisa membagi dirinya.....,
dia biarkan sebagian dirinya diam dalm kenangan....,
dia biarkan sebagian dirinya terus melanjutkan jalan cerita yang telah terbentuk satu tahun terakhir ini

Tapi......
dia hanya bisa diam....,
tak ada alasan untuk terus duduk dalam lamunan, dia harus segera meninggalkan Aula Wonheim.
Menutup semua kenangan yang ada...........

Dia langkahkan kakinya dengan lemah menuju Bahnhof, tak banyak lagi waktu untuk mengobati rasa rindunya, dalam 15 menit kereta yang akan membawa dirinya ke Frankfurt(Main) segera meninggalkan kota kenangannya

Selamat tinggal kawan...................
(dalam kenangan kota kecilku Köthen)

Saturday, September 06, 2003

Ali Irawan

Panggil saja "Ali Irawan"
Mungkin kalian belum mengenal
Dengan perawakan kecil yang lebih banyak diam
Aneh mungkin anggapan kalian
"Sepi...., Sunyi...., Kesendirian..."
Cuma itu yang dia bisa katakan.

Panggil saja "Ali Irawan"
Dunia obat-obatan lebih dia suka daripada keramaian
Narkotik, Psikotropik, bahkan banyak zat Adiktiv yang dia kenal
Setiap langkahnya adalah langkah keraguan

Panggil saja "ALi Irawan"
kalo kalian ingin menjadikannya seorang kawan
Lebih baik pendam saja niat kalian dalam dalam
Remaja Kampung yang tak pernah pantas dipamerkan.


***Ali Irawan dalam kesendirian dia tidak pernah bercerita. Tiap kata katanya tidak pernah bermakna. Hanya dengan kekuatan Do’a dia masih bisa bertahan, dunianya adalah dunia khayal, Dia percaya akan makna besar persahabatan, Keabadian yang tak pernah bisa hilang